Showing posts with label menu. Show all posts
Showing posts with label menu. Show all posts

Sunday, August 25, 2013

Kepiting Saus Padang dari Troelstraweg

Hari Sabtu (minggu) yang lalu Jeng-jeng Troelstraweg tidak mampu menahan diri untuk tidak membeli capit-capit kepiting yang sedang berenang di kolam es milik, sebut saja, Penjual Ikan di Centrum.
Maka, diputuskan menu makan malam Jumat kemarin adalah KEPITING SAUS PADANG.

Meskipun sempat menggalau beberapa kali karena banyak resep Kepiting Saus Padang yang bertebaran di internet; akhirnya saya mengikuti saran Jeng Nyonya untuk mencoba resep yang ini walaupun dengan sedikit modifikasi.

Kisah memasak Kepiting Saus Padang di Dapoer Troelstraweg dimulai dengan mencuci capit-capit kepiting dan merebusnya sampai capit-capit yang berwarna hitam kelam sekelam langit Wageningen di musim dingin berubah menjadi merah jingga bagai langit Kuta Bali pada waktu senja tiba.


Sambil menunggu capit-capit kepiting direbus, ada baiknya menyiapkan bumbu-bumbu yang diperlukan. Yuk mareee....!!

Berdasarkan resep yang kami tiru, mereka menggunakan daun salam (walaupun pada foto di atas ada daun salam, tapi kami tidak menggunakannya); karena ingin rasa yang sedikit berbeda maka daun salam diganti dengan serai. Kemudian, merujuk resep Soto Ayam dari Jeng Nyonyah yang bahan-bahan bumbu halusnya ditumis terlebih dahulu sehingga aduhai menggoyang lidah bagai irama dangdut melayu, maka saya memutuskan secara sepihak untuk menumis bahan bumbu halusnya terlebih dahulu sebelum diuleg di medan cobek. 

Setelah acara tumis menumis serai, daun jeruk, irisan bawang bombay, dan bahan halus dimulai maka segera ditambahkanlah saus tomat (Heinz), saus sambal (ABC), saus tiram (Maekrua; kalo tidak salah baca), telur, gula (Wester Riet Suiker), garam dan merica. Tidak lupa pula kami tambahkan air rebusan kepiting dan sang aktor utama dalam olahan masakan kali ini: capit kepiting nan merah menggoda. Beberapa menit setelah irisan daun bawang ditaburkan, Kepiting Saus Padang siap dihidangkan. Voila!


Tak lupa, Jeng Rini memasak pendamping sebelah kiri (karena pendamping sebelah kanan adalah nasi) yakni sayur sawi (berdasarkan resep dari Sajian Sedap) supaya Jeng-jeng yang seksi-seksi ini teteup sehat dan bugar. [terdengar sorakan dari kejauhan, "Amiiiin!"]


Ternyata proses menyantapnya lebih seru dari pada proses memasaknya. Karena kulit kepiting yang keras dan gigi Jeng-jeng yang sudah tidak kuat untuk meremukkannya maka dimanfaatkanlah catut peremuk kulit kacang (kenari, almond, bukan kacang kulit ya) untuk membukanya. Terjadi beberapa kejadian luar biasa yang membuat Jeng-jeng di sekitar meja makan selalu merem dan menjauhkan muka bila ada yang berusaha meremukkan capit-capit dengan sekuat tenaga. [Oh, maafkanlah kami Jeng Mince bila kami menodai taplak meja kesayanganmu] Makan malam bisa menjadi arena olah raga pula. Hha!

Setelah makan dan kembali bugar, saking bugarnya, kami melanjutkan malam dengan kembali ke Centrum untuk berbelanja, namun kemudian Jeng Nyonyah memisahkan diri untuk menonton Mas Johny Depp dalam film terbarunya The Lone Ranger, sedangkan saya dan Jeng Rini memutuskan untuk ber-Cicuto. Perjalanan malam itu harus diakhiri dengan melaju kembali ke Troelstraweg karena perut saya rupanya masih belum bisa bersahabat dengan tingkat kepedasan ala Kampuang Nan Jauh di Mato itu.


Sebuah pemikiran yang nakal dan ngasal
Kalau dalam masakan ini digunakan cabai dari Spanyol, saus dari tomat Belanda, saus sambal dari Jakarta, kepiting dari lautan antah berantah, dimasak di dapoer Troelstraweg oleh Jeng-jeng dari Indonesia. Maka, bisakah kita sebut masakan ini Kepiting Saus Eurasia atau Euronesia? 


Buah cermai di kandang bebek,
salam damai dari Troelstraweg
-st-

Thursday, June 6, 2013

Bakwan Kawi Malang

Minggu ini cuaca begitu cerah, tapi kabar dari para peramal cuaca sih minggu depan akan kembali gloomy..hmm..Saya pulang lebih awal karena Jeng Mince njemput..dia ada di Orion, gedung baru wur itu.
Dari kemarin kami pengen bakwan kawi Malang..kan punya stock bakso, dari mamanya si Jeng Mimmie ketika antar Jeng Mimmie ke rumah..Jeng Mimmie beberapa hari ini tinggal di Troelstraweg...Oh ya Jeng Mimmie itu ber-gender sama dengan jeng-jeng Troelstraweg, tapi beda species..:D.

Ngomong-ngomong, karena kita ini tinggal jauh dari sumber segala jajanan..maka jadi kreatif ya dalam hal masak-memasak. Coba saat ini saya di Indo, tinggal manggil tukang bakwan kawi yang lewat atau naik motor sebentar ke warung bakwan kawi. Kata Jeng Esteh, di Malang ada yang jual bakwa kawi, per biji nya Rp. 100,00...mana self-service pula,  lalu menghitung sendiri pembeliannya dan  ninggalin uang di situ..semacam lapak kejujuran kali yak..?

So..ini dia  resep bakwan kawi Malang yang kami buat tadi sore...*Oh ya konon, ini adalah juga hasil wawancara Jeng Mince dengan Cak-cak penjual Bakwan Kawi Malang...:D

Bahan :

Daging / thethelan sapi untuk kaldu
Bakso
1 buah tahu putih besar
Kulit pangsit
Mie kuning
1/4 kg daging giling
5 sendok makan tepung tapioka
2 sendok makan tepung beras
Daun bawang
Cabe rawit merah, direbus, haluskan (untuk sambal)


Bumbu :

Bawang putih
Bawang merah
Garam
Merica

Cara:

1. Campur daging giling dengan tepung tapioka dan tepung beras, garam, bawang putih dan merica yang sudah dihaluskan. Masukkan adonan ke dalam tahu putih yang dilubangi di tengah, dan ke dalam kulit pangsit. Kukus tahu berisi daging tersebut. Pangsit isi daging dapat digoreng atau direbus.
2. Kuah : sementara itu rebus daging sapi / thethelan. Masukkan bakso.
3. Iris halus bawang putih dan merah. Goreng. Haluskan bersama merica dan garam. Masukkan ke dalam rebusan daging sapi tersebut. Masukkan pula irisan daun bawang.
4. Siram atau rebus mie kuning.
5. Sajikan seluruh perlengkapan bakwan kawi, tata dalam mangkuk, tuangi kuah kaldu. Bisa ditambahkan kecap, sesuai selera




.  
.
Selamat mencoba
-JNy-

Sunday, June 2, 2013

Kandidat PhD ori vs KW

Sabtu yang mendung dan berangin sepanjang hari...saya, Jeng Mince, Jeng Esteh dan Jeng Rantje bersepeda ke Ede...Jeng Esteh  pengen ke Xenos, saya dan Jeng Mince pengen beli apa yaa..ge je (ga jelas), mau ke Toko Asia sih yang pasti. Jeng Rantje mau mencari either sepatu atau celana panjang untuk dipake seminar di Antwerp.

Oh ya sebenarnya kami ajak-ajak si Mr. Delta alias pak Y.I., karena beliau nih ngebet banget dengan yang berbau-bau diskon, konon di Ede banyak toko sepatu yang murmer..persiapan buat oleh-oleh yang di rumah, mengingat bentar lagi beliau mudik..Tapi Mr. Delta maju mundur, antara ya dan tidak. Pagi-pagi dia dah nongkrong di Leeuwenborch, lembur. Ya akhirnya dia lebih milih kerja di hari sabtu ini. Suka kami olok-olok..wah kandidat PhD beneran nich..

Tapi ternyata masalah kerja saat weekend dan di luar jam kerja, kemudian muncul istilah nya Mr. Delta, justru yang kerja sampe malam-malam di kantor itu justru PhD KW. Contohnya dia nich (termasuk saya) kerja di kantor dari pagi mpe malam (dia lebih malam katanya dalam 2 minggu ini, sampe jam 9 malam), tapi kerjaan ga rampung-rampung ( sama juga dengan saya..lagi-lagi..:D). Makanya disebut PhD KW. Kalo yang kandidat PhD ori itu adalah yang kerja mpe maksimal jam 5-6 sore aja...dan...pekerjaan SELESAI. Tuh lihat PhD-PhD Belande...banyak yang efisien dan efektif kerjanya...Orang Belanda menyebut diri mereka efisien dan efektif instead of pelit..:D

Ohhh...saya jadi mudeng sekarang kenapa Prof dan Supervisor saya sekarang mendadak dalam beberapa bulan ini menjadi sangat tidak Belanda banget...suka kirim e-mail dan draft tengah malam dan saat weekend, bukan mereka sudah tidak Belanda yang terkenal dengan ke-efisien an n ke-efektifan nya, tapi karena treatment buat saya kandidat PhD KW ini memang mungkin harus begitu...paling tidak saya tidak berhenti bekerja, karena dituntut untuk efisien n efektif kerja nya, otak dan kemampuan sudah sangat pas-pas an...:(.

Tapi ada teman lain group pernah comment ke saya, tiap hari melihat saya duduk seharian depan  PC, kerja, kadang tanpa break dan pasti pulang belakangan, apa kamu ga capek ? Saya jawab, ya mumpung saya di sini, harus hanya fokus dengan kerjaan ini, setiap detiknya sangat berharga untuk pekerjaan ini (PhD). Kalo saya pas di home country, banyak pekerjaan lain dan keluarga. Jawaban saya cukup masuk akal kan? so, it's only a matter of allocating our time, when we are here or in our home country... Karena situasi kita  (PhD sandwich) dan PhD di sini tentu saja beda. Tantangannya juga sangat berbeda.  

Eniwei...yuk kita coba selalu bekerja dan menggunakan waktu kita dengan efisien dan efektif, juga dalam hal apa saja, seperti menggunakan sumber daya alam kita yang sebenarnya luar biasa melimpah. So..be smart, efficient and effective..;)

Tapi hari yang mendung ini, paling ga, para PhD KW (paling ga saya yang paling KW) ini menghabiskan waktu bersepeda dan refreshing..dan sempat nyengir papasan dengan teman PhD yang pulang lembur dari kantor...teringat istilah kandidat PhD ori vs KW ini..

Hmm..obrolan kami beralih dari masalah PhD ori vs KW ini ke menu dinner...karena perut kami mulai terasa lapar. Lagi-lagi Jeng Mince masih ribet masalah kecambah. Rawon tertunda lagi, karena kecambahnya belum tumbuh..:D

Ya sudah akhirnya kami memasak Kari Ayam dan Lumpia. Saya mulai nyiapin bumbu-bumbu (saya paling anti make bumbu jadi, kecuali untuk rendang, karena saya paling malas untuk yang satu ini). Lumpia ala Jeng Nyonya selalu make rebung. Kali ini tidak make ayam, dan diganti dengan udang. Kalo Lumpia Jeng Mince biasanya make sayur dan atau bihun.

Kari Ayam Troelstraweg 

Bahan :

1/2 kg daging ayam, kukus terlebih dahulu
5 butir kentang , potong-potong, goreng
Wortel, potong bentuk batang
Santan kelapa

Bumbu :

Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah
Kemiri
Ketumbar
Kunyit
Laos
Jahe
Pala
Sereh
Daun jeruk

Cara:

1. Haluskan bumbu, kemudian tumis
2. Masukkan santan
3. Masukkan ayam, kentang dan wortel.
4. Bubuhi garam dan gula pasir
______________________________________________________________
Lumpia isi rebung 

Bahan :

Rebung
2 butir Telur
Udang / ayam
Kulit lumpia
Daun bawang

Bumbu:

Bawang putih
Merica
Saus tiram
Minyak wijen
Garam
Gula pasir

Cara :

1. Tumis bawang putih hingga harum, masukkan merica,garam, gula, dan saus tiram.
2. Masukkan rebung dan cacahan udang / ayam
3. Masukkan daun bawang
4. Masukan telur yang dikocok
5. Bubuhi minyak wijen
6. Bungkus dengan kulit lumpia
7. Goreng

________________________________________________________

Ok...dech met mencoba...kalo tertarik dengan masakan kami ini..;)

Saya mau lanjut lembur ya, coz'...saya kan kandidat PhD KW ;)

Hasil beli-beli ge je (ga jelas) di Ede

Kari Ayam Troelstraweg

Lumpia




 Salam
Jeng Ny



  

Saturday, June 1, 2013

Menu dinner yang berujung dengan Indomie tidak selalu karena malas memasak...

Jumat yang cerah dan hangat, tapi berangin...

Saya dan Jeng Mince pulang bareng dan kencan di Centrum. Sepeda saya mayan melaju, karena angin berbaik hati, mungkin angin yang ini  rumahnya di Nude...jadi searah dengan sepeda saya...wussshh...mengayuh sepeda seperti didorong oleh angin...

Tak banyak yang kami beli sih, Jeng Mince mampir Zam-zam dan saya hanya beli coffee di Columbus...dan ...olive..(biasa)..Trus ngapain disebut kencan ya...hihihi...Tadinya anak-anak di grup ngajakin hanging out di centrum seeh...tapi saya malas..ingat kata-kata si proof reader yang orang British itu di e-mail nya.." Have a productive weekend.". Hmm karena dia sudah nunggu-nunggu draft saya ini. Selalu menanyakan  (ga tahu kenapa malah jadi dia yang napsu gitu ya..:D)..Okay....berarti saya memang harus nyelesain draft paper saya ini dan segera kirim ke dia. It sounds dia bukan londo banget ya'...nyuruh-nyuruh kerja saat weekend. Tapi sekarang, prof dan spv saya juga mendadak jadi sangat tidak londo...suka kirim e-mail tengah malam dan ngirimkan corrected draft..pfff.. Apa penyakit para senior yang sudah retired memang begitu ? terinngat alm. ibu saya dulu yang susah tidur pada hari-hari tuanya..:(....

Eniwei....

Dari siang masih di kantor tadi, via skype, Jeng Mince dah nanya-nanya, sore ntar mau masak apa..saya hari-hari ini memang geen idee ..no idea..walau persediaan amunisi bahan makanan Dapoer Troelstraweg sangat cukup. Jeng Mince mentioned masak rawon, dia udah beli daging si sapi. Saya bilang, beli kecambah dong..tapi dia kekeh banget mau numbuhin kecambah sendiri...Ya baiklah...toh saya sudah merendam kacang hijau sejak pagi, mau bikin burjo sih yang pasti hanya saya dan Jeng Esteh yang akan makan, karena Jeng Mince tidak suka (apa sih yang kamu suka, Jeng...heraaaan dech, list makanan yang tidak disukai lebih banyak..:D).

Nah tapi kalo masih pake acara numbuhin kecambah, artinya masak rawon nya ya masih besok-besok. Nah malam ini masak apa dong...saya usul Kari Ayam..tapi Jeng Mince kayak ogah-ogahan makan Kari Ayam. Dia nyeletuk, pengen indomie lagi dech....usul ini disambut gembira oleh Jeng Esteh. Nah lho, indomie memang kadang bikin kangen..

So..kami mengeluarkan stock indomie, rebus dan goreng. Kami akan memasak sendiri-sendiri indomie kami, sesuai selera dan SOP (standard operasional pelaksanaan) masing-masing. Jeng Mince dan Jeng Esteh pengen indomie rebus. Saya mau yang goreng sajah. Mulailah memasang alat masak di atas kompor. Pertama Jeng Mince mau merebus mie dan telur nya terlebih dahulu. Tapi rupanya Jeng Esteh memasukkan telur di panci jeng Mince tidak menurut SOP Jeng Mince...akhirnya saya mengalah, telur itu saya pake. Padahal rencana mie saya tidak make telur. karena pagi hari sudah sarapan pake telur rebus.

Indomie saya tak begitu banyak variasi. Lagi gak punya ide. Standard aja make sayur dan cabe. Indomie rebus Jeng Mince dan Jeng Esteh terlihat warna-warni. Oh ya tak lupa kami menggoreng kerupuk kampung sebagai pelengkap dan ditambah acar persediaan kami yang masih ada.

Indomie rebus Jeng Mince dan Jeng Esteh terlihat sama, padahal beda SOP. Misal, jeng mince merebus telur , mie dan sayur sendiri-sendiri, kemudian ditata di mangkuk, diirisin cabe rawit dan tomat cherry baru dituangin air panas. Sedangkan indomie rebus ala Jeng Esteh, mie direbus dan air rebusan diganti, lalu telur dan  sayur dimasukkan dan direbus sama-sama. Tuang ke mangkuk dan ditaburi irisan cabe dan tomat cherry. Lalu, indomie goreng saya..ga usah aja ya..sangat standard kok hehe...

Maka beginilah rupa indomie kami malam itu.. Bukan karena malas...tapi memang lagi pengen banget makan indomie..;)




Indomie rebus Jeng Esteh 
Indomie goreng Jeng Ny

Indomie rebus Jeng Mince

Wednesday, May 22, 2013

Hari Kelabu (Semoga) Segera Berlalu

Semisal ada teman yang berencana berkunjung ke Belanda, pertanyaan yang sulit dijawab adalah: "Gimana cuaca di sana?". Biasanya kami akan menjawab dengan mengirim website prakiraan cuaca mpamporit kami entah itu accuweather, buienradar, atau teru teru bozu. Oke, contoh yang terakhir lebay.
Cuaca Belanda ini susyaaah ditebak, suka berubah: 'like a girl changes her clothes' kata Mbak Katty Pery. Walau begitu, biasanya prakiraan cuaca per-jam tiap harinya lumayan tepat sih. Makanya kami lebih suka menjawab dengan mengirim alamat website prakiraan cuaca, dari pada menebak-nebak buah manggis [kamu jelek, aku manis :p].

Hari ini pun dimulai dengan pagi nan mendung mendayu-dayu bagai lagu melayu. Dingin. Sekitar tengah hari, matahari KW1 tersenyum manis (mungkin habis lunch), tapi cuma sebentar dan langit kembali bermuram durja [haish, bahasanya...!]. Sore kembali kelabu, menyebabkan hati merasa pilu...

Supaya bersemangat maka ada baiknya makan malam yang berwarna-warni biar hati kembali berseri-seri [emang Solo, Mbak; berseri?!]. Maka diputuskan makan malamnya: Salad Warna-warni, ikan goreng dan sambel cola-colo. Simpel dan seger.


SALAD WARNA-WARNI
Bahan: Paket salad hijau (kami memakai: Paket Salad 'Gemengde' dari Hoogvliet), jagung pipil kalengan (crispy corn), tomat cherry, alpukat, paprika, keju lunak (mozarella), biji-bijian/kacang-kacangan (biji bunga matahari, biji labu dan kaceng mete), perasan lemon, minyak zaitun.

Semua bahan yang bisa dan harus dipotong ya dipotong dan kemudian semuwah dicampur jadi satu.













IKAN GORENG
Bahan: ikan, lemon, tepung terigu, tepung beras, jahe, merica, garam, minyak goreng.

Ikan dilumuri dengan air lemon dan parutan jahe kemudian digoreng dengan balutan campuran tepung terigu, tepung beras, merica dan garam.













SAMBEL COLA-COLO (sambel colo-colo, modifikasi)
Bahan: bawang merah, tomat hijau, cabe, air lemon, garam, gula.

Iris semua bahan dan campurkan.













Bagaimana pemirsa, mudah bukan cara membuatnya? [Mohon dibaca dengan gaya Ibu Sisca Soewitomo].

Sayang sekali Jeng Mince pulangnya malam [rajin bok, rajin! biar cepet lulus. Amin], jadi saya dan Jeng Nyonyah makan duluan sambil menunggu Jeng Mince datang. Kasihan Jeng Mince kalo makan sendirian [alasan nambah sih sebenernya ;)].

Akhirnya Jeng Mince pulang sambil membawa... matahari!! Ya ampyuun... sang mentari kembali bersinar sumringah. Huh, dasar matahari galau tak punya pendirian. Selalu plin-plan dalam menentukan pilihan.
Besok jangan sedih-sedih lagi ya, matahari. Tersenyumlah. Atau... pengen dimasakin apa? Ntar Jeng-jeng Troelstraweg yang masakin khusus buat Neng Matahari deh.

[mohon maaf, karena penulis sudah mulai agak gila maka ada baiknya postingan ini dihentikan sampai sini saja :p]

Salam dari Troelstraweg di suhu 6'C
Selamat Makan!
-st-

Tuesday, May 21, 2013

Sambal goreng tahu & ayam kecap pengusir depresi cuaca kelabu

Topik tiap hari sekarang2 ini adalah tentang ke-gloomy-an cuaca di Belanda, Wageningen khususnya. Bener2 bikin depresi.... Males banget kaan kalo buka jendela tiap pagi, meski spring, tapi ga pernah liat matahari?. Kalo udah gini, kangeeeeeen banget sama Indonesia (plus mas2 kami yg (kata kami) ganteng hehehe).
Makanya, pagi2, saya dan jeng nyonyah udah ribut2 sama penyakit depresi karena ga ada matahari ini. Sering loh kita becanda, bilang kalo matahari di Belanda ini cuma 1, udah gitu KW pula (emang cuma tas yg bisa KW hehe..). Bandingin dong dengan matahari di Indonesia yang bukan cuma original, tapi jumlahnya pun bisa sampe 8! tapi ini si hiperbolanya kakak saya, yang saking panasnya udara di Rembang sampe bilang kalo mataharinya ada 8. Well, that maybe true :)

Anyway, tiba2 saya kangen masakan ayam kecap mba Sum...tapi berhubung di Indonesia sudah malam dan ga bisa nanya, akhirnya saya inget2 aja bumbu yang kerasa kalo saya lagi makan ayam kecap buatan mb Sum. Rasanya agak2 mirip sih, tapi menurut lidah saya tetep aja enakan bikinan mb Sum... Nah sebagai temennya, saya buat sambal goreng tahu juga. Jadinya lauk2 semua deh ga ada sayurnya..itulah, ternyata depresi membuat orang malas berkreasi hehe..

Ayam Kecap Pengusir Depresi Cuaca Kelabu

Bahan : Ayam (goreng sebentar, sisihkan), bawang merah iris tipis, jahe digeprek, daun salam, cengkeh, bumbu yang diuleg: bawang putih dan merica butiran, kecap manis, kaldu ayam, garam, gula, minyak sayur untuk menumis

Cara membuat : tumis bumbu halus dan bawang merah sampe harum, masukkan jahe, cengkeh dan daun salam. Tuang kecap manis, aduk2. tambahkan air kaldu, tambahkan garam dan gula. masukkan ayam yang sudah digoreng, biarkan sampai bumbu sedikit mengental. angkat dan hidangkan.

Sambal goreng tahu

Bahan:

tahu putih potong kotak2 kecil, goreng dan tiriskan
Bumbu iris : cabai merah buang isinya, iris tipis, bawang merah, bawang putih
Bumbu halus: bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah
lengkuas digeprek
daun salam
santan
air 
gula merah, garam

Cara membuat:
Tumis bumbu halus, bumbu iris, lengkuas dan salam sampai harum.
masukkan tahu, aduk sebentar. masukkan santan. karena saya pake kara, kuahnya saya tambahin dengan air
tambahkan gula dan garam. tunggu sampai mendidih. angkat dan hidangkan. oiyaa, kalo kurang manis bisa ditambahin gula putih sedikit yaa sesuai selera.




-Mnc-

Monday, May 20, 2013

Jogging, ice cream dan bistik solo minimalis

Sunday, 19 May 2013

A long weekend..

Hari minggu ini satu-satunya hari yang ber-matahari dalam 2 minggu ini. Hari-hari selanjutnya mendung dan hujan lagi..

Kami tak berencana bepergian atau berenang, latihan basket dan badminton, Jeng Esteh harus ke gereja dan saya sakit perut, padahal hari yang cerah itu sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja.. so Jeng Mintje punya usul jogging di sore hari bersama Jeng Rantje..  keliling jalan-jalan desa di dekat Harweeg.

Sedikit geli dengan gaya jogging kami, karena saya dan Jeng Mintje membawa tas kecil berisi dompet , kamera dan hp, dengan niat mau beli cicuto ice cream  sepulang jogging nanti..  (sangat bertentangan dengan niat membakar lemak dengan jogging..:D).

Jadilah kami jogging (tapi banyak jalannya seeh...dan saya banyak ambil foto-foto sana sini..:D)..seputar desa-desa dan ladang-ladang hingga ke batas Province Gelderland - Utrecht. Kayak jauh gitu ya..hihi padahal engga...total paling cuma 4 km...








Sepulang jogging, kami tidak jadi mampir ke cicuto ice cream, karena kami ingat masih punya persediaan ice cream Ben & Jerry's. Jeng Rantje yang merasa masih punya ice cream Ben & Jerry's rasa strawberry juga di apartment nya segera pulang untuk mengambilnya, dan kami menunggu di tepi danau sambil memandang sekeluarga bebek yang baru saja menetaskan anak-anak bebeknya, sang induk masih duduk mengerami telur atau anaknya yang baru saja menetas. Dua anak lainnya sudah berenang hilir mudik, dan sang bapak bebek sibuk mondar-mandir mencarikan cacing dan makanan-makanan lain buat anak-anaknya...so touching...hiks...

Jeng Rantje turun dari apartment nya  dengan tangan hampa, ternyata ice cream nya udah dimakan sama house mates nya...hiihi..Ya sudahlah, toh kami masih  punya ice cream di rumah..rasa coklat dan vanilla. Sembari makan ice cream, kami menyiapkan bumbu-bumbu buat bistik solo...eaaaaa...ini habis jogging 2 jam, makannya macem-macem dah...

Karena bahan tidak lengkap..jadilah bistik kami minimalis....

Bahan :

250 gram daging sapi giling
5 butir telur
5 sendok makan tepung panir 
3 batang wortel
5 buah kentang
3 buah tomat
Blue band margarin
2 sdm tepung maizena

Bumbu :

Satu butir bawang bombay
Merica
Garam
Pala
Kayu manis
Kecap
Gula pasir
Cuka

Cara membuat :

1. Campur daging sapi giling + 1 butir telur + 5 sendok makan tepung panir+irisan bawang bombay. Tambahkan garam, merica, pala dan gula pasir. Bungkus menggunakan daun pisang atau aluminium foil. Kukus selama 15'
2. Rebus wortel dan 4 butir telur. Pisahkan putih dan kuning telur. Rebus pula tomat hingga terkelupas kulitnya, lalu saring. Iris kentang dan goreng.
3. Panaskan margarin dan tumis irisan bawang bombay, tuangi air dan sari tomat. Tambahkan garam, pala, merica, pala, kayu manis dan kecap. Setelah mendidih, masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan di air dingin.
4. Membuat mustard : kuning telur dihaluskan, ditambahkan garam, gula pasir, merica dan cuka
5. Tata semua bahan dalam piring. Sajikan.

Jadilah bistik solo minimalis kami...sayurnya hanya wortel..hehe..
Sepulang jogging, Jeng esteh sempat menimbang badannya, dan melaporkan turun 6 ons..Tapi sehabis makan ice cream dan bistik, menimbang lagi, naik 7 ons...:D . Maka kami sepakat untuk tidak lagi memusingkan hal berat badan, nikmati sajalah... ;)
Bistik solo minimalis
-JNy-


Saturday, May 18, 2013

Mie Ayam ala abang-abang gerobag cokelat

Untuk weekend ini, kami telah berencana memasak mie ayam ala abang-abang gerobag cokelat  trayek Cilangkap. Info bumbu-bumbu yang digunakan didapatkan oleh Jeng Mince melalui depth interview dan direct observation terhadap si abang-abang gerobak cokelat tersebut. 

Oh ya...sebenarnya yang pengen banget mie ayam ini adalah Jeng  Depi (kali ini dia ngaku kalo bukan karena nyidam, otherwise bener-bener akan kami jitak :D).


Maka tengah hari, kami meluncur ke centrum membeli keperluan untuk mie ayam tersebut. Jeng Depi berjanji membawakan ayam fillet dan jamur kancing.


Selesai belanja, mulailah kami memasak. Sedikit ada perdebatan mengenai bahan dan bumbu yang digunakan untuk mie ayam ini, seperti penambahan tong tjai, minyak wijen, dan saus tiram, tidak diperkenankan, karena akan merusak rasa mie ayam ala abang-abang gerobag cokelat ini. Jeng Mince pengen stick on resep ala abang-abang gerobag cokelat tersebut. Namun akhirnya tong tjai diperkenankan  untuk dimasukkan, sebagai pengganti kecap asin dan karena Jeng Mince juga memperkenankan pemakaian jamur kancing yang sama sekali tidak pernah digunakan oleh si abang.


Ok...kebanyakan narasi ya...mari kita meluncur untuk membuat mie ayam ala abang-abang gerobag cokelat..


Bahan :

Mie wok
Ayam Fillet
Jamur kancing
Daun bawang
Pak coy direbus
Cabe rawit merah untuk sambal


Bumbu :

Bumbu yang dihaluskan :
Bawang putih
Bawang Merah
Kemiri
Jahe
Kunyit
Ketumbar
Merica

Dimasukkan saat bumbu halus ditumis: 

Daun salam
Daun jeruk
Serai
Garam
Gula pasir
Tong tjai
Kecap

Cara:
1. Tumis bumbu yang telah dihaluskan, masukkan daun salam, daun jeruk, serai, garam, gula pasir, tong tjai dan kecap manis. Masukkan ayam fillet , aduk hingga setengah matang lalu masukkan potongan jamur kancing, tambah sedikit air, masukkan tong tjai dan daun bawang. Tambahkan kecap manis. Diamkan beberapa saat hingga matang.   
2. Sementara itu buat kuah mie dengan cara merebus daging ayam bertulang. Rebus pula mie wok dan sayur pak coy, tiriskan. Tata dalam piring.
3. Sajikan dalam mangkuk,diawali  dengan memberikan satu sendok makan minyak ayam pada masing-masing mangkuk (porsi).



PELENGKAP :

Pangsit goreng


Bahan dan bumbu :

Kulit wonton
Daging ayam dicacah lembut
Tepung tapioka dan gandum dengan perbandingan sama
Haluskan bawang putih, merica dan garam

Cara:

Campurkan daging ayam yang dihaluskan, tepung tapioka, tepung gandum, bumbu yang dihaluskan dan air hangat secukupnya sehingga adonan mudah dipulung. Masukkan ke dalam kulit wonton, lipat, dan goreng dalam minyak yang tidak terlalu panas dan api kecil

__________________________________
Bumbu-bumbu yang digunakan







Mie Ayam yang belum diracik dalam mangkuk




















Mie ayam yang telah diracik dalam mangkuk



















Jadi dech Mie Ayam ala abang-abang gerobag cokelat. Kami menikmati mie ayam ini di sore yang dingin dan mendung, di meja makan rumah troelstraweg, sambil ngobrol banyak topik. Menurut Jeng Mince, masih kurang mirip rasa abang-abang...* mungkin karena ga pake daging teman-temannya Jerry..:D...sstttt...moga-moga si abang ga bisa akses ke blog ini ya, ntar saya dituduh pencemaran nama baik...Hehe..Menurut si abang sih, dia murni pake daging ayam kok...tapi kali ada bumbu lain yang dia rahasiakan? hmm
Anyway..mie ayam kami ini ludes, masing-masing nambah porsi.....nyam nyam...gini kok pengen kurus...hhhhh..;)


(Pengen Kurus - Saykoji)


Salam dari Dapoer Troelstraweg
JNy, JMinc, JEsteh n JDep

Friday, May 17, 2013

Tumis Ikan Asap, Sayur Toge & Kerupuk Kampung

Sore ini saya harus supervisi course Food Safet y Management di Orion ( Jeng Nyonyah sama jeng Este belom pernah nih masuk Orion..hehehe pamerin aaah..). Asik aja masuk ke Gedung barunya Wur, liftnya asiik (edisi Mince yang ndeso), mana pake nyasar lagi ke lantai 4, hadeeeeh kaya baru pertama kali aja ke sini. Acaranya cuma ngomongin “self reflection” nya  anak-anak yg ngambil course. Intinya saya ngasi feedback, padahal yang ngasi feedback belom tentu bener hihi hi, ya sudahlah…itulah untungnya jadi direktur.
Selesai supervisi jam 5 lebih trus nunggu jeng Nyonyah di depan Orion. Payah, jeng nyonyah di BBM ga dibales2, ditelp ga diangkat2, mana dingin. Masa harus nyusul ke Zodiac sih, kan hujan! Eits dia bales, “udah di de Bongerd, tak tunggu aja di depan”,  katanya. Yo wes meluncurlah saya ke de Bongerd . Rencananya si mau maen Bulu tangkis ganda sama jeng Nyonyah. Ternyata pas nyampe malah ga bisa maen, gara2nya bayar tiket hanya boleh buat tenis, buat bulu tangkis ga bisa. Itulah ruginya ga punya sports card. Eh ga rugi ding, saya kan ga suka dan ga bisa olah raga, bisanya cuma seksi komentator aja hehe..
Berhubung ga bisa ngapa2in dan jeng Nyonyah harus nerusin maen, saya terpaksa harus balik ke rumah nih, mana hujan deres . Nekat ga make celana ‘jas hujan’ karena pede jaketnya udah waterproof (dodol, kan jaket ya, bukan celana) akhirnya bikin saya jadi basah kuyup. Berhubung udah kepalang basah, keinginan buat balik ke rumah saya belokkan dikit jadi balik ke centrum hehe..
Hmm..sempet mikir sih antara pengen ke Z am zam beli daging (plus ketemu mas (ga) ganteng ) ato ke hani-ni beli beras. Tapi berhubung stok berasnya bener2 dah menipis ya jadinya belok ke hani-ni. Pilih sana pilih sini, akhinya dapetlah cabe hijau besar, cabe merah keriting, tempe dua papan, lengkuas, bawang putih, udang, dan beras Thailand tentunya. Karena di luar hujannya makin deras, akhirnya nyante dulu di hani-ni sambil ngobral-ngobrol sama yang punya took. Nah gara2 ngobrol ini saya jadi tertarik sama si ikan asap yang dijual. Bentuknya si ngingetin saya sama ikan asap dari Ambon yang dulu sering dibawa om kalo lagi pulang ke Jakarta, tapi buset  deh mahal bener nih ikan, masa harganya 7.45 euro. yo wes lah, gimana lagi, namanya juga pengen.
Nyampe rumah si nyonyah dan jeng este belom dateng, jadi terpaksa masak sendiri deh. Kupas sana, kupas sini, iris sana, iris sini,  taraa jadinya begini nih.....









Tumis ikan asapBahan-bahan: Ikan Asap, Bawang merah, bawang putih, cabe merah keriting/rawit (saya make cabe merah), lengkuas, daun salam, sereh, gula, garam, minyak sayur untuk menumis. Cara membuat : daging ikan asap disuwir-suwir, sisihkan. bawang merah, bawang putih, dan cabe diiris tipis lalu ditumis. setelah harum masukkan lengkuas, sereh dan daun salam, kemudian baru ikannya. terakhir tambahkan gula dan garam, jangan lupa dicicip yaaa..

-Mince- 

Thursday, May 16, 2013

Obrolan pagi dan sore Dapoer Troelstraweg

Obrolan pagi hari saat sarapan menjelang berangkat ke kantor.. 

Jeng Mince       : " kita ini kalo keluar dr PNS, di Indo susah lho mau kerja apa...karena tidak punya keahlian. Dosen dan guru tuh coba, bisa nya kan hanya ngajar...." 
Jeng Nyonyah   : (tercenung)..." Iya sih...perusahaan swasta pilih make fresh-graduated S-1 daripada lulusan S-3 begini, kecuali ya mau aja digaji standard S-1.."   

__________________________________________________________

Obrolan dilanjutkan pada sore hari saat memasak soto ajam dan bakwan (bukan) legendaris...

Jeng Mince dan Jeng Nyonyah : "....so kita memang harus punya skill kalo mau keluar dari PNS dan buka usaha........"

Jeng Es Teh                           : " kita bisa memanfaatkan  keahlian selama di sini...coba saja dibuat daftar.."

(langsung bermunculan ide-ide cemerlang)

1. Buka restaurant : berdasarkan pengalaman memasak dengan bahan minimalis dan subtitusi (contoh: masak sayur oblok-oblok, daun ketela diganti boeren kol; berhasil membuat mie ayam mirip mie ayam abang-abang gerobag coklat (so specific ya' ..ala jeng mince)) 
2. Travel agent : berdasar pengalaman jalan-jalan, membuat itinerary, browsing tiket paling murah, hotel murah, spot-spot terbaik yang wajib dikunjungi dan menyesuaikan tanggal libur seluruh anggota, packing paling efisien, dll..
3. Photographer dan model : tergabung mendadak dalam kumpulan pengguna kamera dslr; dijadikan model dadakan para pemilik kamera dslr, dan editing photo
4. Pemasok barang-barang murah : akibat sering belanja online (utamanya sport direct).
5. Dancer : pengalaman jeng Es Teh menjadi penari saman dadakan
6. Ahli budaya : pengalaman menjelaskan tentang kultur budaya Indonesia di berbagai event di sini.. 

Udah sih kayaknya itu-itu saja yang prospektif...
eh masih satu nih...

7. Tukang becak : biasa mengayuh three cycle saat pindahan barang...(sayangnya kalo di Indonesia tidak ada asuransi liabilitas..jadi kalo nabrak mobil ya tanggung sendiri...:D)

-JNy-